Blog

Poto Tano, Bukit Galau dan bapak

Untuk awan yang indah di atas hamparan Bukit Galau, aku bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang anak desa yang selalu bersahabat dengan jagung-jagung di tikungan tanjakan Bukit Galau. Jagung-jagung dan aku adalah sahabat dekat. Ya, karena setiap hari sepulang sekolah aku dan saudara-saudaraku berjalan menuju Bukit Galau untuk menjaga ladang jagung kami disana. Kami melewati jalan raya perkampungan desa transmigran yang panas. Lalu beberapa saat kemudian, kami dimanjakan dengan pemandangan pepohonan rindang yang daunnya seringkali berwarna kuning kecoklatan.

Jalan munuju Bukit Galau sangatlah indah. Jalannya semakin lama semakin tinggi. Dan disekitarnya dipagari pepohonan rindang tadi. Mungkin pohon-pohon itu sudah lama berdiri elok di situ. Karena daun-daunnya yang berguguran sudah berlapis-lapis.

Kami selalu menyapa mereka dengan senyuman riang dan gelak tawa yang menggemaskan. Kami berjalan dibawah bayangan pohon-pohon itu, seolah menawarkan diri untuk dilindungi dari sengatan panas matahari yang terik.

Sesampai di ladang, kami bermain sambil menjaga ladang dari kambing, sapi, babi hutan, atau bahkan dari kera-kera penghuni Bukit Galau. Oh iya, aku punya sebuah cerita tentang kera-kera  penghuni Bukit Galau. Disuatu pagi yang berkabut, bapak pergi melihat ladang jagung kami di Bukit Galau. Lalu tiba-tiba bapak melihat segerombolan kera sedang asyik memakan jagung-jagung kami. Bapak pun sepontan mengambil sebatang ranting kayu besar lalu melemparknnya kearah mereka. Kera-kera itu pun berlari berhamburan. Bapak menggiring mereka sekuat tenaga  agar keluar dari ladang. Mereka berlari melewati jalan beraspal menuju hutan kecil di kaki bukit. Bapak tetap mengejar mereka sampai ke hutan. Tetap berlari membawa sepatang kayu besar. Tidak memperdulikan semak-semak yang menghalang. Tetapi saat tiba di bawah sebuah pohon Asam besar, bapak berhenti sejenak. Bapak kiranya terkejut melihat seekor kera yang paling besar diantara kera-kera lainnya, seolah sedang menghalangi jalannya. Tubuh kera itu hampir sama dengan bapak. Besar dan gemuk. Matanya seperti memberi isyarat mundur kepada bapakku. Lalu seperdetik kemudian, ia meloncat menerkam bapak. Bapak berteriak “Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!”

***

Lalu bapak mengusap darahnya. Kelima preman itu kembali bersiap menyerang bapak yang tak bersenjata apapun. Sedangkan mereka memegang parang besar yang tajam. Tetapi bapakku tak gentar sedikitpun. Keberaniannya tak bisa luntur hanya dengan parang tajam yang dipegang oleh preman-preman pengecut seperti mereka. Yang beraninya hanya keroyokan. Dengan parang pula. Satu lawan lima. Tangan kosong dan bersenjata. Disaksikan oleh beberapa orang pelabuhan yang tak berani membantu. Oh, bukan tak berani membantu, tapi sedang dibantu oleh bapak: Si penghuni pelabuhan baru, yang dengan namanya saja telah menyingkirkan kekuasaan wilayah preman-preman pengecut itu. Malam itu, bapak sudah tahu diri akan dikeroyok oleh preman-preman itu. Tapi ia hanya membawa dirinya, tanpa senjata. Bagi bapak, laki-laki sejati tidak bertarung dengan senjata. Jadilah pertarungan tak imbang yang sengit itu terjadi.

Malam itu pun langsung menjadi malam yang sangat mengerikan untuk emak. Emak tak bisa membayangkan apapun yang akan terjadi bila bapak ‘pergi’ dibawa sabetan tajam parang-parang kelima preman pelabuhan Poto Tano itu. Suara teriakan terdengar sangat menyayat. Aroma darahpun tercium ngeri. Pakaian bapak sudah berlumuran darah. Parang-parang sudah kenyang. Dan preman-preman itu terkapar dalam pelukan hangat darah mereka sendiri.

***

Saat matahari mulai meninggi, aku dan saudara-saudaraku sampai di ladang. Pagi itu, kami disambut oleh mayat seekor kera besar yang tergantung di pohon depan ladang. Darahnya masih sangat segar. Lebih segar daripada darah para preman yang dulu dikalahkan bapak saat kami masih tinggal di pelabuhan Poto Tano.

#basedfromtruestory
#sejauhkenawa
@anggunwahyunimz

@Den Genk

 

Advertisements

“What ever it takes, life must go on!”

Dalam hidup banyak hal yang kadang kala membuat kita terluka. Meskipun tak sedikit juga yang membuat kita tersenyum, tetap saja kita sangat sedih jika sedang terluka. Kadang luka yang begitu dalam mampu membuat kita kehilangan harapan untuk hidup. Membuat kita bisu dengan segala macam bahasa yang telah kita kuasai. Hal-hal yang membuat kita terluka kadang kala adalah hal yang tidak kita inginkan terjadi. Mungkin itu adalah saat orang yang kita sayangi tiada. Atau mungkin juga ketika seseorang yang kita sayang, ternyata tidak menyayangi kita dan malah lebih memilih orang lain.  Sebenarnya apasih yang bisa membuat kita tidak terluka?

Haruskah tuhan menciptakan kita ulang dengan bahan anti gores atau semacamnya? Atau tak usah hidup sekalian? Huftttt. Saya juga bingung. Kadang ingin rasanya tidak sedih sama sekali. Tidak menangis sama sekali. Tidak terluka sama sekali. Tapi mau dikata apalagi, saya dan anda adalah manusia, yang pasti pernah merasa sedih, pernah menangis, juga pernah terluka. Cuma mungkin hal yang membuat kita merasa seperti itu yang berbeda. Atau juga cara kita menyikapinya yang berbeda. Kadang ada orang yang karena sedang bersedih dia lantas bunuh diri. Tapi ada juga orang sedihnya sama, tapi dia tetap melanjutkan hidupnya dengan ceria. Nah seharusnya kita bersikap seperti yang mana, yang bunuh diri atau yang tetap menjalani hidup?

Itu tergantung pada pilihan kita sendiri. Tapi saya sarankan, tetaplah untuk hidup betapapun menyedihkannya hidup anda. Karena sebagaimanapun sakitnya menjalani hidup, tetap saja hidup itu anugerah. Jika anda tidak hidup, bagaimana mungkin anda bisa merasakan sakit dan pedih. Kehidupan itu tidak akan berhenti hanya sampai anda mati. Ia akan terus berlanjut sampai waktunya tiba. Jadi jika anda bunuh diri, itu tidak akan merubah apa-apa. Tidak ada gunanya. Hiduplah selagi anda masih diberi kesempatan untuk hidup.[eng]

Lagi

Hari ini, aku merindukanmu
Lagi, lagi dan lagi
Hari ini, aku memikirkanmu
Lagi, lagi dan lagi
Hari ini, aku berdoa untukmu
Lagi, lagi dan lagi
Hari ini, aku masih mengharapkanmu
Lagi, lagi dan lagi
Hari ini, bisakah aku melupakanmu
Lagi, lagi dan lagi
Hari ini, bisakah kau pergi dari anganku
Lagi, lagi dan lagi
Tapi hari ini, lagi lagi aku temukan diriku yang menyedihkan ini, masih mencintaimu

Ibuku Istri Kedua!

Pernahkah kalian bayangkan, bagaimana rasanya jika kalian diduakan? Sakit bukan?! Hari ini aku ingin memberi tahu kalian tentang hal yang lebih menyakitkan daripada diduakan, yaitu ‘menjadi yang kedua!’.

Dulu bapak dan emakku bertemu pertama kali di sebuah terminal di pulau Sumbawa. Hanya pertemuan kecil. Tidak ada adegan saling menyapa ataupun perkenalan. Hanya sekilas saling melihat. Itu saja. Saat pertama melihat emak, bapak langsung jatuh hati. Bapak mengikuti emak hingga ke rumahnya. Dan sesampai disana, dengan PD-nya bapak langsung mengaku bahwa ia adalah kekasih emak. Emak yang sama sekali tak mengenal bapakpun langsung terkejut dan memandang kearah bapak dengan penuh keheranan. Tapi bapak dengan polosnya hanya tersenyum nakal dan mengedipkan matanya sebelah.

Singkat cerita semenjak saat itu bapak mencoba mendekati emak dan keluarganya dengan hal-hal yang penuh dengan kejutan. Dan lama semakin lama, hati emak luluh juga. Tetapi kakekku(bapaknya emak), tidak mau menyetujui hubungan bapak dan emak. Kakek bilang, ia tidak mau punya menantu preman terminal. Tetapi emak tetap saja mencintai bapak. Sampai akhirnya menikah dengan bapak meski tanpa mendapat restu dari kakek.

Setelah menikah, bapak membawa emak kerumahnya. Di sambut dengan penuh kejutan: seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi laki-laki! Hati emak hancur. Mimpi hidup bahagianya sebagai pengantin baru pun runtuh saat mengetahui bahwa wanita itu adalah istri bapak. Dan bayi laki-laki itu adalah anak bapak. Anak! Mungkin jika emak diposisi wanita itu, emak akan sangat marah dan kecewa. Karena suaminya yang selama ini ditunggu kepulangannya, membawa ‘teman baru’ untuknya. Wanita itu berhak kecewa. Berhak memaki emak dengan sepuas hatinya. Tetapi emak? Ia bahkan tak bisa  menyangkal kenyataan bahwa, ternyata ia tak lebih dari seorang perebut suami orang! Merebut pria yang sudah beranak satu!

Emak ingin menuntut cerai. Tapi kemana ia akan pergi setelah bercerai? Kakek pasti takkan menerimanya karena ia telah menikah tanpa restu darinya. Sungguh kenyataan yang pedih. Dan mau dikatakan apalagi, nasi sudah menjadi bubur.

Emak tidak bisa mengembalikan waktu yang berlalu. Tetapi emak juga tidak mau menyesali hal yang sudah terjadi. Ia sangat yakin bahwa takdir Tuhan itu pasti indah. Tidak mungkin Tuhan membiarkannya menjadi seorang istri dari suami orang tanpa mempunyai rencana yang indah kedepannya. Emakpun menjalani takdir pahitnya itu dengan lapang dada. Ia bersabar menunggu klimaks indah yang disediakan Tuhan untuk skenario hidupnya kelak.

#basedfromtruestory
#sejauhkenawa
@anggunwahyunimz

Lembar Sakti Dara

” Tanpa sepatah katapun, aku langsung mengerti isyarat binaran itu. Kulihat dari matanya yang lebih besar dari mataku itu seolah ia mengatakan bahwa ia ingin membelanjakannya. Sungguh pikiran yang licik, desahku dalam hati.”

Aku ingat dulu, di suatu hari yang cerah, di pelabuhan Poto Tano, aku dan Dara pergi bermain ke rumah pak Wayan. Aku dan Dara bermain di bagasi rumah pak Wayan. Saat itu bagasi pak Wayan belum disemen. Masih berlantai tanah. Aku dan Dara bermain membuat rumah-rumahan dari tanah dengan bantuan sepotong kayu yang bentuknya seperti penggaris. Lalu tiba-tiba ditengah bermain, saat Dara sedang mengorek-ngorek tanah dengan kayunya, ia menemukan selembar uang kertas berwarna hijau dengan nominal dua puluh ribu rupiah Dua puluh ribu! Saat itu, untuk anak usia enam tahun dan empat tahun, uang dua puluh ribu rupiah adalah jumlah yang sangat banyak.Tak terbayangkan besarnya! Dengan dua puluh rupiah, kau bisa membeli empat puluh mangkuk bubur kacang hijau. Atau bisa mendapat 5 botol kaca sprite. Atau juga bisa dua puluh kali makan mie instan yang sudah dimasakkan diwarung pak wayan! Benar-benar jumlah yang diluar batas kami berdua untuk membelanjakannya. Jadi tak usah heran saat Dara memperlihatkan lembar sakti itu padaku, mataku langsung berubah warna. Menyesuaikan dengan warna lembaran itu.

Dara yang saat itu sudah mengerti bahwa lembar yang ia dapatkan itu bukanlah lembar biasa(tapi lembar sakti) langsung memandangku dengan mata berbinar. Tanpa sepatah katapun, aku langsung mengerti isyarat binaran itu. Kulihat dari matanya yang lebih besar dari mataku itu seolah ia mengatakan bahwa ia ingin membelanjakannya. Sungguh pikiran yang licik, desahku dalam hati.

Bersambung dulu ya….:)

 

Pak Wayan Olympiade

“Tak perlu hal yang rumit untuk bahagia, karena sebenarnya hal terkecil saja tetap bisa jadi kenangan”

Dulu ketika saya masih berusia enam tahun, saya tinggal disebuah pelabuhan penyebrangan di pulau Sumbawa. Saya tinggal di warung tempat orang tua saya menjual  nasi dan lauk kepada para penumpang kapal yang baru turun ataupun akan naik kapal. Hidup kami disana sangat sederhana. Saya sangat ingat, disana dulu saya dan adik saya Dara sangat suka bermain ke rumah Pak Wayan yang berada di belakang warung-warung tempat saya dan teman-teman masa kecil saya itu tinggal.

Pak Wayan adalah seorang hindu asal Pulau Bali. Beliau tinggal dengan istrinya yaitu Bu Wayan. Dan anaknya yang laki-laki, Wayan. Pak Wayan sangat baik hati. Beliau juga ramah dan menyukai anak-anak. Selain itu beliau seorang yang sangat humoris. Itulah sebabnya saya dan Dara sangat senang bermain ke rumah Pak Wayan. Bukan hanya kami berdua yang senang, tapi juga anak-anak yang tinggal di Pelabuhan juga senang bermain kesana setiap hari.

Karena kami jarang ada yang mau berangkat sekolah, maka kami setiap pagi sudah standby didepan rumah beliau. Menunggu Pak Wayan membuka warungnya dan bermain bersama kami. Yang paling berkesan adalah main lomba lari. Pak Wayan biasanya menyuruh kami yang belum mandi untuk membuat satu barisan beshaf. Lalu  beliau akan meniup peluit untuk mulai berlari ke batas tertentu. Dan kamipun berlari sekencang yang kami bisa. Rasanya seperti mengikuti lomba lari di Olympiade. Benar-benar seru! Setelah itu kami akan menunggu Pak Rasul datang, tukang bubur kacang hijau keliling.

Kami dibelikan satu mangkuk bubur kacang hijau setiap selesai lomba lari oleh Pak Wayan. Dan untuk yang berlari paling cepat dibelikan dua mangkuk. Yah, sangat sederhana. Tapi bila mengingat masa itu, rasa hangat langsung mengguyur saya dan membuat saya tersenyum sendiri. Sungguh kenangan manis yang tak terlupakan.[eng]

Sahabat Nizham

” Hanya karna badai sekali, Ia takkan mengabaikan ribuan musim semi”

Aku punya seorang sahabat yang sangat tangguh mentalnya. Ia seorang yang supel. Jika sudah bicara, aku tak tahu bagaimana mau menghentikannya. Ia cerdas dan selalu bisa membuat kritikan pedas. Tapi sayangnya dia tak tahu bagaimana cara menahan emosinya jika melihat sesuatu yang menurutnya salah. Ia akan berkata ‘itu benar’ jika memang menurutnya benar. Dan akan selalu berkata ‘ itu salah’ jika menurutnya itu memang salah.

Dia berasal dari sumbawa. Kami biasa memanggilnya Nizham. Nizham Mahmudi Muttaqin. Aku mengenalnya karena satu pesantren denganku. Tak sulit untuk mengetahui Nizham. Karena ia selalu tampil di depan. selalu mengangkat suaranya jika ditanya oleh guru. Ia sangat potensial. Ia bisa segalanya. Seingatku, dulu aku pertama kali berbincang dengannya dalam suatu debat di kegiatan Fathul Kutub. Ia yang menjadi pembicaranya. Sedang aku menjadi orang yang menentang pendapatnya. yah, cukup menarik mendapat sahabat yang bisa menukar pendapat. tak ragu untuk memperbaiki kesalahan dan setia kawan.

Sekarang ia sedang mengejar S1 nya di Universitas Darussalam Gontor. Kalau tak salah mengambil jurusan Mazhab-mazhab Islam. Oh, Iya. Aku lupa mengatakan bahwa Nizham tak lulus pesantren tempat kami. Dikarenakan ia diusir sebulan sebelum wisuda karena sebuah insiden. Tapi itulah Nizham. Badai sekali takkan membuatnya melupakan ribuan musim semi. Ia tetap tersenyum pada masa depan. Tak gentar dengan kenyataan. Semoga ia tetap selalu seperti itu, tetap menjadi seorang yang tegar dalam menghadapi kerasnya fakta kehidupan.[sahabatmu]