Ibuku Istri Kedua!

Pernahkah kalian bayangkan, bagaimana rasanya jika kalian diduakan? Sakit bukan?! Hari ini aku ingin memberi tahu kalian tentang hal yang lebih menyakitkan daripada diduakan, yaitu ‘menjadi yang kedua!’.

Dulu bapak dan emakku bertemu pertama kali di sebuah terminal di pulau Sumbawa. Hanya pertemuan kecil. Tidak ada adegan saling menyapa ataupun perkenalan. Hanya sekilas saling melihat. Itu saja. Saat pertama melihat emak, bapak langsung jatuh hati. Bapak mengikuti emak hingga ke rumahnya. Dan sesampai disana, dengan PD-nya bapak langsung mengaku bahwa ia adalah kekasih emak. Emak yang sama sekali tak mengenal bapakpun langsung terkejut dan memandang kearah bapak dengan penuh keheranan. Tapi bapak dengan polosnya hanya tersenyum nakal dan mengedipkan matanya sebelah.

Singkat cerita semenjak saat itu bapak mencoba mendekati emak dan keluarganya dengan hal-hal yang penuh dengan kejutan. Dan lama semakin lama, hati emak luluh juga. Tetapi kakekku(bapaknya emak), tidak mau menyetujui hubungan bapak dan emak. Kakek bilang, ia tidak mau punya menantu preman terminal. Tetapi emak tetap saja mencintai bapak. Sampai akhirnya menikah dengan bapak meski tanpa mendapat restu dari kakek.

Setelah menikah, bapak membawa emak kerumahnya. Di sambut dengan penuh kejutan: seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi laki-laki! Hati emak hancur. Mimpi hidup bahagianya sebagai pengantin baru pun runtuh saat mengetahui bahwa wanita itu adalah istri bapak. Dan bayi laki-laki itu adalah anak bapak. Anak! Mungkin jika emak diposisi wanita itu, emak akan sangat marah dan kecewa. Karena suaminya yang selama ini ditunggu kepulangannya, membawa ‘teman baru’ untuknya. Wanita itu berhak kecewa. Berhak memaki emak dengan sepuas hatinya. Tetapi emak? Ia bahkan tak bisa  menyangkal kenyataan bahwa, ternyata ia tak lebih dari seorang perebut suami orang! Merebut pria yang sudah beranak satu!

Emak ingin menuntut cerai. Tapi kemana ia akan pergi setelah bercerai? Kakek pasti takkan menerimanya karena ia telah menikah tanpa restu darinya. Sungguh kenyataan yang pedih. Dan mau dikatakan apalagi, nasi sudah menjadi bubur.

Emak tidak bisa mengembalikan waktu yang berlalu. Tetapi emak juga tidak mau menyesali hal yang sudah terjadi. Ia sangat yakin bahwa takdir Tuhan itu pasti indah. Tidak mungkin Tuhan membiarkannya menjadi seorang istri dari suami orang tanpa mempunyai rencana yang indah kedepannya. Emakpun menjalani takdir pahitnya itu dengan lapang dada. Ia bersabar menunggu klimaks indah yang disediakan Tuhan untuk skenario hidupnya kelak.

#basedfromtruestory
#sejauhkenawa
@anggunwahyunimz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s