Kalah Dengan Jagung

Menurutku, jagung adalah tumbuhan yang sangat tahu diri. Mereka tahu diri bahwa umurnya pendek. Mungkin karena mereka sering mendengar manusia sering mengungkapkan rasa kecewanya saat ada seorang yang baik atau bijaksana, tapi ‘perginya cepat’ dengan mengatakan: “ Oh, sayang sekali, dia baik, tapi umurnya hanya seumur jagung”
Nah, karena hal ini, jagung tidak pernah menyia-nyiakan umurnya yang singkat. Mereka jadikan hidupnya yang hanya kurang lebih enam bulan itu penuh berkah,penuh manfaat untuk orang yang telah merawatnya, yaitu petani.
Mereka seakan sangat mengerti, bahwa petani yang menanam mereka telah berusaha keras untuk menjadikan mereka jagung yang bertongkol unggul. Mereka seakan tahu, bahwa petani telah menanam mereka dengan susah payah. Harus mencangkul atau menbajak ladang dulu untuk menimbun mereka sesenti dibawah tanah. Mereka juga seakan merasakan kekhawatiran petani saat mereka tumbuh besar. Khawatir kalau jagung-jagung akan dimakan kambing, sapi, ataupun babi hutan, saat petani tidak ada diladangnya. Sehingga petani membentengi ladangnya dengan pagar yang rapat, yang ketat.
Mereka juga tahu diri bahwa mereka di’sayang’ oleh petani. Sampai-sampai petani membersihkan tumbuhan lain yang tumbuh disekitar jagung agar jagung tidak kekurangan makanan karena berbagi dengan tumbuhan lain(rumput, dll). Apalagi ketika petani memberi mereka pupuk agar mereka tumbuh sehat dan tidak sakit, mungkin kalau seandainya bisa, mereka ingin memeluk petani untuk berterima kasih. Dan saat mereka harus mati, mereka meninggalkan biji-biji mereka untuk dijual petani, agar petani itu bisa memberi nafkah keluarganya, bisa melanjutkan hidupnya.
Iya, jagung hanya hidup kurang lebih enam bulan. Tapi mereka mampu memberi manfaat bagi petani, orang yang merawat dan menjaganya. Kita?! Manusia. Tak sedikit yang hidup lebih dari seratus tahun tapi tak memberi manfaat apa-apa. Dan jangankan mau memberi, Kadang diminta saja tak sedikit yang menolak! Nah, setelah ini, apakah kita ingin termasuk sebagai seorang yang di-’kalah’-kan oleh jagung, yang hidupnya cuman sebentar dan dalam hidupnya tak punya pilihan apa-apa, yang harus selalu ‘nurut’ sama petani? Mereka takkan bisa memilih pupuk apa yang mau diberikan. Ataupun memilih di tanah mana mereka akan ditanam. Tidak punya! Sedangkan kita, sudah hidup ‘selama’ ini dan punya pilihan yang tak terhitung, tapi dengan jagung saja manfaatnya kalah?!

Eng's photo.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s