Bahagia Tanpa Bayar

This is the excerpt for your very first post.

Advertisements

Taliwang, 26 Agustus 2016
Bahagia. Sebuah kata keramat yang bisa membuat manusia selalu ingin berlari kearahnya. Bahagia. Sebuah tujuan yang fana untuk orang-orang yang ingin  menggapainya, tetapi tidak tahu dimana ‘bahagia’ itu berada. Orang-orang berlomba-lomba ingin bahagia. Tak sedikit yang bekerja banting tulang hanya karena ingin hidup bahagia. Banyak yang mengira bahwa bahagia akan didapatkan jika sudah memiliki harta berlimpah, rumah mewah, dan kebutuhan mewah lainnya tercukupi. Padahal belum tentu bahagia akan datang dengan dengan ‘itu’.

Orang bilang bahagia itu relatif. Artinya setiap orang punya definisi ‘bahagia’ nya sendiri. Tak harus terikat dengan wikipedia ataupun KBBI. Akan tetapi tak sedikit orang yang menggapai definisi ‘bahagia’ nya sendiri saja tidak bisa, apalagi mau memakai definisi bahagia orang lain. Lantas, sebenarnya dimana bahagia itu? Mengapa untuk merasakan hal ini saja sampai membuat banyak orang bekerja mati-matian bahkan tak sedikit yang ujung-ujungnya merasa kecewa, hampa dan frustasi karena tak kunjung bertemu yang namanya ’bahagia’?

Sebenarnya bahagia itu sederhana. Ia ada dekat dengan kita. Yaitu di dalam hati kita. Hati yang selalu merasa cukup. Karena pada dasarnya hidup kita hanya tentang dua hal saja: senang dan susah. Nah, sekarang masalahnya adalah, jika hidup kita ini hanya tentang senang dan susah, berarti sebenarnya yang namanya bahagia ini tidak ada. Karena orang yang hidupnya senang saja belum tentu bahagia, apalagi yang hidupnya susah!

Pembaca yang budiman, ingatkah anda pada dua ayat surah al-baqarah ayat 152 dan 153?
Al-baqarah 152 menyebutkan :

فَاذْكُرُوْنِىْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ.
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat(pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”
Menurut saya, ayat ini memberikan kita rumus bahagia ketika kita dalam keadaan senang, yaitu dengan cara ‘bersyukur’. Jika Allah SWT memberikan kita kesenangan, maka kita harus mensyukurinya. Jika kita bersyukur tentu saja hati kita akan menjadi tenang, dan bahagia pun bukan hal yang asing lagi untuk kita. Tetapi jika kita tidak bersyukur, boro-boro akan bahagia, tenang saja tidak!

Lalu ayat selanjutnya, yaitu Al-Baqarah ayat 153 yang berbunyi:

يَاَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ اِنَّ اللهَ مَعَ الصّابِرِيْنَ

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

 Ayat ini tepat setelah ayat 152 tadi. Jika ayat 152 tadi memberikan kita rumus tentang bagaimana cara bahagia ketika senang, maka ayat 153 ini memberikan kita rumus ‘bahagia’ selanjutnya, yaitu cara bahagia ketika dalam keadaan susah. Rumusnya adalah dengan ‘bersabar’. Saat kita dalam keadaan susah maka kita harus bersabar. Kita harus yakin bahwa dengan ‘susah’ itu Allah akan mengangkat derajat kita. Kita harus bersabar. Kita yakin dengan pertolongan Allah yang tak pernah absen mendatangi kita, pasti akan segera datang! Jika kita bersabar, maka dalam keadaan susah pun kita tetap bisa tersenyum. Tetap merasa bahagia.

Oleh karena itu, pembaca yang budiman, marilah kita masukan dua rumus hidup bahagia ini dalam hidup kita : ‘ Bersyukur’ ketika senang dan ‘Bersabar’ ketika susah. Jika kedua rumus ini kita aplikasikan, maka kita sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak bahagia.[Eng]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s